Hal pertama yang tertangkap oleh pandangan Khabian saat kakinya baru saja menapak di lapangan itu bukanlah keramaian atau suara bising di sekitarnya, melainkan satu pemandangan sederhana di sudut lapangan.

Seorang lelaki berjalan mendekati lelaki lain yang duduk santai di sana, membawa sebotol air mineral dingin di tangannya. Tanpa banyak kata, botol itu disodorkan, dan lelaki yang menerima hanya membalas dengan senyum tipis—sekadar lengkungan halus di bibir, tidak mencolok, tapi cukup untuk menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar ucapan terima kasih biasa.

Dan entah mengapa dari jarak yang tidak bisa dibilang dekat, Khabian tetap mampu menangkap detail kecil itu dengan jelas, seolah ada sesuatu pada momen tersebut yang secara tidak sadar menarik perhatiannya lebih lama.

Sudut bibir Khabian terangkat sedikit, membentuk seringai kecil sebelum berubah menjadi senyum miring yang samar. Dugaan yang sempat terlintas di kepalanya semalam kini terasa semakin masuk akal. Jazz dan Seven, cara keduanya berinteraksi barusan bukan sesuatu yang netral. Ada kedekatan yang terlalu halus untuk disebut biasa, tapi juga terlalu jelas untuk diabaikan.

Namun anehnya, keduanya tidak pernah benar-benar terlihat sebagai sepasang kekasih. Entah siapa yang menahan langkah, apakah Jazz yang sengaja menjaga jarak, atau Seven yang memilih untuk tidak melangkah lebih jauh.

“Lama banget, brengsek!” Suara keras yang menyapanya sekaligus menghentikan alur pikirannya membuat Khabian mengalihkan perhatian. Mylo, lelaki itu sudah berdiri dari duduknya dengan ekspresi kesal yang tidak ditutup-tutupi. “Lo mandi apaan sih? Mandi kembang?” lanjutnya, nada bicaranya masih dipenuhi sisa kekesalan.

Khabian hanya melirik sekilas, sama sekali tidak tampak terburu-buru untuk membela diri. “Mandi lumpur,” jawabnya santai, tanpa perubahan ekspresi yang berarti. “Lumayan, tadi dapet gift.”

Jawaban itu cukup untuk memancing gelak tawa dari Javi, Wisesa, Daniel, dan yang lainnya. Suasana yang tadinya biasa saja mendadak pecah oleh tawa yang tidak ditahan. Hanya Mylo yang tetap memasang wajah sebal, menatap Khabian seolah ingin melempar sesuatu.

Namun Khabian tidak benar-benar terlibat dalam tawa itu. Perhatiannya kembali terarah ke sudut yang sama—ke arah Seven dan Jazz yang kini terlihat tengah berbincang santai, duduk tidak terlalu jauh dari tempatnya bersama teman-temannya.

Tanpa mengatakan apa pun, tanpa memberi isyarat atau meminta persetujuan, Khabian yang tadinya hanya diam menatap dari tempatnya berdiri, kini mulai melangkah mendekat. Gerakannya tenang, pelan, nyaris terlalu santai, seolah ia tidak sedang mendekati sesuatu yang berpotensi menimbulkan reaksi dari banyak orang.